Gapura Candi Bentar: Fakta Unik Filosofisnya dan Ide Desain

Setiap daerah di Indonesia memiliki keunikan budaya masing-masing, termasuk Bali. Bali menjadi salah satu daerah yang kaya akan budaya, mulai dari tarian, upacara adat, pakaian, dan rumah adat. Salah satu arsitektur tradisional khas dari Bali adalah Rumah Adat Gapura Candi Bentar.

Apa saja ciri khas dari gapura tradisional di rumah adat Bali ini? Apa saja nama bagian-bagian rumah adat Bali? Yuk, langsung saja mengenal lebih jauh tentang rumah adat dari Pulau Dewata ini! Simak informasi menarik ini hingga akhir ya!



Rumah Adat Candi Bentar


Ketika mengunjungi Pulau Bali, pasti Anda sering menemukan Candi Bentar di setiap rumah. Candi Bentar ini memang digunakan sebagai gapura rumah adat masyarakat Bali. Namun, kini Candi Bentar juga dibangun di depan rumah modern masyarakat Bali.

Selain untuk menambah estetika, Candi Bentar atau juga disebut Split Gates yang ada di depan rumah ini diyakini bisa menjadi penjaga untuk semua penghuni rumah. Candi Bentar juga dipercaya bisa mendatangkan rahmat dan aliran rezeki lancar dari dewa air Bhatara Wisnu.

Ya, Candi Bentar memang memiliki banyak filosofi penting bagi masyarakat Bali.

Kebanyakan orang ingin mengunjungi gapura "surga" ini untuk mendapatkan spot photo terbaik di antara Candi Bentar. Gerbang ini biasanya memiliki tangga untuk mencapai pusat di tengah. 

Baca juga: Ukuran Tangga yang Nyaman, Ini Cara Menentukan Jumlah Anak Tangga!

Kedua sisi mewakili konsep dualitas Bali yang berarti pentingnya menjaga keseimbangan antara kekuatan gelap dan terang.

Selain memiliki gapura yang khas tersebut, rumah adat Bali juga memperhatikan letak bangunan rumah utama, arah desain, ukuran pekarangan, struktur bangunan, dan lain sebagainya.

Masyarakat Bali memiliki desain rumah adat dengan unsur seperti miniatur alam semesta sebagai tempat manusia beraktivitas.

Gapura Candi Bentar yang paling terkenal di Bali adalah di Pura Lempuyang.

Candi Bentar Pura Lempuyang


Dengan perkembangan jumlah pengguna Instagram yang semakin banyak membuat membuat lokasi ini semakin terkenal karena orang-orang banyak mencari spot foto yang menampilkan seolah-olah Gapura Candi Bentar mengapung di badan air yang jernih, sehingga terlihat reflektif seperti gapura yang mengambang.

Ciri Khas Gapura Candi Bentar


Candi Benar berupa dua buah bangunan kembar yang berfungsi sebagai pintu gerbang atau gapura rumah masyarakat Bali. Gapura ini diukir menggunakan ukiran khas Bali. Bentuknya tinggi meruncing ke atas.

Baca juga: Contoh Motif-Motif Ukiran yang ada di Indonesia

Candi Bentar dibangun menggunakan bahan paras. Jenis batu ini akan dipotong dan dibentuk serta diukir. Selain itu, gapura sebenarnya bisa dibuat dari jenis bahan bangunan lainnya. Beberapa pengrajin bangunan membuat gapura ini dari cetakan khusus yang diisi semen dan pasir.

Candi Benar dibuat dan dirancang oleh seorang pengrajin yang disebut dengan Undagi. 

Ukiran pada Candi Benar menggambarkan kehidupan masyarakat tradisional Bali. Terdapat simbol Rwa Bhineda artinya dua hal yang selalu berdampingan.

Ukiran Candi Benar juga disisipi dengan aksara Ang (angkasa atau ayah) dan Ah (perthiwi atau ibu) menggunakan aksara Bali. Filosofinya jika kedua hal itu disatukan, maka akan membentuk kehidupan.

Ciri khas lainnya dari Candi Benar adalah adanya lubang. Lubang ini merupakan tempat untuk meletakkan sesajen dan canang. Ya, masyarakat Bali setiap hari rutin meletakkan sesajen dan canang.

Bagian-Bagian Gapura Candi Bentar


Di bagian depan rumah adat Bali selalu ada Candi Bentar sebagai gerbang rumah. Selain itu, rumah adat Bali juga terdiri dari beberapa bagian lainnya. Berikut ini beberapa bagian dari rumah adat Bali, yaitu:

1. Angkul-angkul

Bagian ini berupa pintu masuk utama yang mirip dengan Candi Bentar. Apa perbedaannya? Angkul-angkul memiliki atap berbentuk piramida. Atap ini terbuat dari rumput kering.

Anda hanya bisa melewati angkul-angkul untuk masuk ke bagian dalam rumah adat Bali.

2. Aling-aling

Aling-aling berfungsi sebagai pembatas antara angkul-angkul dan halaman pekarangan. Masyarakat Bali percaya bahwa aling-aling bisa meningkatkan sifat ruang positif. Aling-aling bisa dibangun berupa tembok atau patung.

Ada juga penyeker yang merupakan tempat membatasi ruang positif dan negatif. Penyeker berupa tembok yang mengelilingi rumah.

3. Pamerajan

Pamerajan disebut juga sebagai pura keluarga yang berfungsi sebagai tempat ibadah di dalam rumah bagi pemeluk agama Hindu.

Pamerajan umumnya dibuat di sudut timur laut rumah.

Pamerajan terdiri dari beberapa bangunan dengan fungsi berbeda-beda.

4. Bale Meten, Bale Dauh, Bale Sekapat, dan Bale Gede

Bagian lainnya dari rumah adat masyarakat Bali adalah bale meten, bale dauh, bale sekapan, dan bale gede. Apa perbedaan struktur bangunan dan fungsi dari masing-masing bale ini?

Bangunan yang ada di dalam rumah adat Bali memang memiliki fungsinya masing-masing. Bale meten sebagai salah satu bangunan tersebut berfungsi sebagai tempat tidur kepala keluarga. Selain itu, anak gadis yang belum menikah juga diperkenankan tidur di bale meten.

Bale meten biasanya dibangun menghadap ke utara.

Bale Dauh berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu. Bangnan ini berada di sebelah barat dan berbentuk persegi panjang. Bale dauh dibangun dengan sembilan tiang penyangga. Selain itu, bangunan ini juga dilengkapi dengan berbagai hiasan, seperti ukiran kayu maupun patung.

Baca juga: Pengertian Patung Arsitektur, Jenis, Bahan, dan Teknik Pembuatannya

Berbeda dengan bale dauh, bale sekapat hanya ditopang oleh empat tiang penyangga. Bangunan ini biasanya digunakan sebagai tempat untuk berkumpul dengan anggota keluarga.

Sesuai namanya, bale gede memiliki ukuran bangunan yang cukup besar dan cukup mewah. Bangunan ini biasanya digunakan ketika mengadakan upacara adat yang mengundang banyak orang.

5. Paon

Paon juga disebut dengan paweregen berfungsi sebagai dapur yaitu tempat untuk memasak dan menyimpan bahan pangan. Paweregen umumnya terdiri dari dua bagian, yaitu tempat memasak dengan tungku atau kayu dan tempat menyimpan bahan makanan serta peralatan dapur lainnya.

6. Klumpu

Bagian lainnya dari rumah adat Bali adalah Jineng atau Klumpu. Bangunan ini digunakan untuk menyimpan gabah dan padi. Gabah disimpan di bagian bawah, sementara padi disimpan di bagian atas.

Ide Desain Gapura Candi Bentar


Apakah Anda ingin membuat rumah dengan gerbang seperti Candi Benar? Nah, berikut ini beberapa contoh desain Candi Benar pada rumah adat Bali!

Baca juga: Ide Gapura Minimalis yang Bisa Anda Jadikan Inspirasi


1. Gapura Candi Bentar dengan Material Bata Merah


2. Gapura Candi Bentar dengan Hiasan Kerajinan Janur Kuning


3. Gapura Candi Bentar dengan Batu Alam


4. Gapura Candi Bentar dengan Nuansa Alam


5. Gapura Candi Bentar yang Menjulang Tinggi


6. Gapura Candi Bentar "Gerbang Menuju Surga"



Rumah Adat Gapura Candi Bentar memiliki desain arsitektur yang unik dan penuh dengan filosofi baik. Masyarakat Bali tentu saja akan terus melestarikan bangunan rumah adat ini. Buktinya, kini gaya arsitektur rumah adat Bali termasuk Candi Bentar masih digunakan di rumah-rumah modern.

0 Response to "Gapura Candi Bentar: Fakta Unik Filosofisnya dan Ide Desain"

Posting Komentar