Desain Ramp (Tangga Landai)

Pembangunan fasilitas umum seperti toilet, tangga, dan lift harus dapat dijangkau dan dimanfaatkan oleh semua orang, termasuk bagi mereka yang difable. Puji syukur, saat ini tidak jarang kita menemukan ramp atau tangga landai yang biasanya diperuntukan sebagai fasilitas bagi para difabel, lansia, anak kecil, keadaan darurat atau untuk jalur barang.

Kita juga bisa menemukan ramp pada gedung parkir, areal perkebunan yang menanjak yang membutuhkan jalur ramp ini.

Bahkan fasilitas ramp ini dapat dimanfaatkan pasien penyandang tuna daksa dan tuna netra lho. Syaratnya dalam desain tangga ramp dibuat cukup landai sehingga dapat digunakan tanpa bantuan orang lain, dan di setiap sisi terdapat pembatas atau pegangan rambat (hand rail) sehingga dapat digunakan tanpa takut terjatuh. 



Apa itu Ramp?

Ramp adalah jalur sirkulasi atau perpindahan orang atau benda yang memiliki bidang dengan kemiringan tertentu.

Ramp, lift dan lift tangga digolongkan menjadi satu dimensi, yaitu fasilitas untuk perpindahan barang atau manusia yang memiliki arah pergerakan secara vertikal atau tegak lurus terhadap bangunan.

Baca juga: Ukuran Tangga yang Ideal

Keunggulan Dan Kekurangan Ramp

Ramp memiliki kelebihan dibandingkan tangga, yaitu:

  • Mampu dilalui oleh roda, baik oleh kursi roda, kendaraan maupun troli barang. 
  • Ramp digolongkan ke dalam bagian bangunan pintar karena ramah terhadap difable

Namun dibalik keunggulannya tersebut, tersimpan kelemahan seperti:

  • Membutuhkan ruang atau space yang lebih banyak ruang;
  • Membutuhkan dimensi yang lebih panjang sehingga konsultan perencana dan kontraktor harus benar-benar cermat dalam menempatkan lokasi mana yang akan dibangun ramp tersebut.

Kriteria Dalam Mendesain dan Membangun Ramp


Hal terpenting dalam desain ramp adalah memenuhi kriteria dan standar terkait dengan sudut kemiringan dan material ramp yang digunakan. 

Berikut ini ketentuan dalam mendesain dan membangun ramp adalah:

1. Dianjurkan kemiringan ramp tidak boleh melebihi rasio tinggi:panjang, 1:12, dengan beberapa pertimbangan :

  • Pengguna kursi roda masih dapat menaiki dan melewati ramp dengan kemiringan 1:12 tersebut tanpa dibantu oleh orang lain.
  • Rasio 1:12 tersebut harus memungkinkan bagi pengguna kursi roda untuk mampu menuruni ramp tanpa rasa takut terbalik dan tanpa perlu menyeimbangkan roda bagian belakang.
  • Bagi ambulant disabled seperti pengguna kruk ataupun walker dapat dengan mudah menaiki ramp dengan kemiringan 1:12.

Ditinjau dari peraturan pemerintah, untuk ramp yang berada di dalam sebuah bangunan tingkat kemiringannya tidak boleh melebihi 7 derajat, dengan perbandingan antara tinggi dan panjang 1:8. Sementara itu kemiringan suatu ramp yang berada di luar bangunan maksimum 6 derajat, dengan perbandingan antara tinggi dan panjangnya 1:10.

Ramp yang memiliki kemiringan perbandingan 1:8, maka panjang dasarnya tidak boleh lebih dari 900 cm, mamun panjang ramp dengan kemiringan yang lebih rendah dapat memiliki panjang dasar yang lebih dari 900 cm. 

2. Lebar minimum ramp adalah 95 cm tanpa tepi pengaman, dan 120 cm yang harus dilengkapi dengan tepi pengaman. 

3. Pembuatan ramp yang diperuntukan bagi pejalan kaki dan perpindahan barang harus mempertimbangkan ukuran lebar rampnya sehingga keduanya dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

4. Awalan atau akhiran suatu ramp harus memiliki permukaan yang datar dan tidak licin

5. Ramp sebaiknya dilengkapi dengan pegangan atau rambatan (handrail) yang akan memberikan rasa aman bagi penggunanya. Adapun ketinggiannya berkisar 65-80 cm.

6. Dilengkapi dengan pembatas rendah pinggir ramp (low curb) yang dirancang untuk menghalangi kursi roda agar tidak terperosok atau keluar dari jalur ramp. 

7. Pembuatan ramp harus dilengkapi dengan penerangan khusus, terlebih pada bagian-bagian ramp yang memiliki ketinggian terhadap muka tanah sekitarnya atau pada bagian yang membahayakan.


Ketentuan Teknis Tangga Ramp-untuk Penyandang Disabilitas


Bangunan yang memiliki ramp dapat memudahkan pengguna kursi roda untuk mengakses ruangan yang ada. Permukaan ramp sebaiknya didesain rata sehingga memberikan kemudahan bagi pengguna kursi roda ketika melewatinya.


Jenis-Jenis Ramp


Kita sering menjumpai jenis-jenis ramp yang masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda, seperti di rumah sakit, tempat parkir, dan fasilitas umum lainnya. Berdasarkan tingkat kemiringannya ramp dibagi menjadi tigas jenis, yaitu sebagai berikut: 

1. Ramp dengan Kemiringan Rendah

Ramp jenis ini juga disebut ramp landai karena memiliki kemiringan 5-8%. Cara menghitung persentase kemiringannya yaitu (y/x)*100%. Dengan y adalah jarak vertikal (tinggi ramp) dan x adalah jarak horizontal (panjang ramp).

Lapisan permukaan lantainya tidak perlu diberi bahan penutup anti selip. Namun, jika diberi lapisan anti selip akan lebih aman, apalagi untuk kemiringan yang mendekati 8%. Apabila ingin membuat ramp yang cukup luas, ramp landai ini lebih cocok dikarenakan tidak menyebabkan penggunanya lelah melewatinya, seperti untuk areal jogging track, dan jalur troli atau jalur kursi roda.

2. Ramp degan Kemiringan Sedang

Ramp sedang atau medium memiliki kemiringan 8-15% yang dilengkapi dengan bahan penutup lantai anti selip. Ramp jenis ini banyak kita jumpai pada parkir di basement hotel atau pusat perbelanjaan sebagai jalur naik turunnya kendaraan bermotor. Penggunaan ramp di basement bisa dikatakan wajib atau harus ada karena letak area parkir yang ada di basement mengharuskan kendaraan untuk turun di bawah gedung.

3. Ramp dengan Kemiringan Curam

Ramp curam atau steep dengan kemiringan antara 30-45% yang dipersyaratkan harus menggunakan bahan anti selip pada permukaan lantai dengan dibuat kasar. Ramp ini lebih cocok diterapkan pada are perkebunan. 

Penutup

Dari ulasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ramp atau tangga lainati berperan sebagai tangga yang dimanfaatkan khusus untuk difable. Namun, terdapat jenis ramp curam yang penggunannya digunakan untuk parkir atau mobilitas sepeda atau motor. Semoga bermanfaat.

0 Response to "Desain Ramp (Tangga Landai)"

Post a Comment