Tipe Ukuran U-ditch dan Cara Memproduksinya

Saat ini penggunaan sistem pracetak pada sistem saluran (U-ditch) sudah semakin berkembang dengan berbagai keunggulan yang ditawarkan. U-ditch memberikan kualitas konstruksi saluran drainase atau irigasi yang lebih terstruktur dengan pelaksanaan yang lebih cepat.

Berikut di bawah ini akan kami jabarkan mengenai ukuran dimensi U-ditch yang umumnya digunakan di pasaran dan bahan material apa saja yang dibutuhkan untuk memproduksi beton bertulang U-Ditch yang berkualitas.

Saluran Sistem U-Ditch


Apa itu U-ditch?



U-ditch beton bertulang merupakan salah satu inovasi dari beton bertulang dengan bentuk penampang huruf U yang diperuntukan sebagai saluran, baik untuk saluran drainase maupun saluran irigasi. U-Ditch ini bisa diberi tutup di atasnya yang bertujuan agar saluran drainase tersebut bisa dilewati oleh pejalan kaki atau kendaraan.

Ketinggian beton bertulang U-dith ini dapat bervariasi mengikuti kebutuhan di lapangan atau elevasi saluran yang diinginkan. Untuk menyambungkannya antara beton U-Ditch satu dengan yang lainnya digunakan plat joint (Plat embeded dan sambungan baut joint atau male female) dimana pada bagian pertemuan sambungannya cukup diberikan mortar sebagai penutup nat.

Tipe Pracetak U-Ditch


Saluran Pracetak U-Ditch terdiri dari beberapa type dengan ukuran tertentu dan memiliki mutu beton yang sama yakni K-350, berikut pada tabel, diperlihatkan ukuran dan tipe saluran Pracetak U-Ditch beton bertulang yang diproduksi secara massal:





Produksi U-Ditch Pracetak


Dalam memproduksi U-ditch tentunya yang diperlukan pertama kali adalah persiapan bahan dan materialnya. Berikut ini bahan yang digunakan untuk pembuatan beton bertulang U-ditch sebagai saluran irigasi atau drainase berikut dengan penjelasan material terbaik yang wajib dipilih. 

1. Semen

Untuk menghasilkan saluran U-ditch yang berkualitas dengan permukaan beton yang lebih rapat dan lebih halus, pilihlah semen portland komposit (PCC). Semen PCC ini mempunyai panas hidrasi yang lebih rendah sehingga akan mempermudah proses pengerjaannya dan tentunya menghasilkan U-ditch dengan permukaan yang rata dan rapi.

2. Agregat

Agregat kasar yang digunakan yaitu agregat lolos saringan ½” (12.5 mm) dan agregat halus berupa debu batu. Proses penyaringan dan pencucian agregat dilakukan selama 20 menit. Pencucian agregat dilakukan sampai kadar lumpur yang terdapat dalam agregat hilang.

3. Air

Air yang digunakan untuk pencampuran beton harus bersih dan bebas dari material perusak seperti minyak, asam alkali, bahan-bahan organik atau material lainnya yang dapat merusak beton dan baja tulangan.

4. Baja Tulangan

Baja tulangan yang digunakan terdiri atas baja tulangan polos dan tulangan ulir. Baja tulangan tersebut dipotong menggunakan gurinda.

Proses Pembengkokan Baja Tulangan

Pembengkokkan baja tulangan dapat dilakukan dengan cara manual atau dengan menggunakan mesin. Tulangan yang dibengkokkan merupakan tulangan ulir.

Metode sambungan untuk tulangan dilakukan dengan cara dilas dengan jarak sesuai dengan gambar desain yang telah ditentukan.

5. Superplasticizer

Superplasticizer merupakan bahan tambahan yang dimasukan adukan segera sebelum atau selama pengadukan dilakukan. Superplasticizer memiliki fungsi untuk menghasilkan kekentalan adukan pasta semen atau beton segar yang lebih rendah. Superplasticizer yang digunakan adalah Sika Viscocrete 3115 dengan dosis 1% dari berat semen.


Persiapan Bekisting (Mould)

Salah satu tahapan dalam memproduksi U-ditch adalah penuangan beton ke dalam bekisting. Oleh karenanya, harus mempersiapkan bekisting terlebih dahulu. Bekisting (mould) yang biasanya digunakan untuk memproduksi U-ditch terbuat dari plat baja. Pemilihan material baja untuk bekisting ini lebih awet dan tahan lama, sehingga dapat digunakan berulang kali.

Moulding U-ditch

Pada tahap persiapan bekisting terlebih dahulu dibersihkan dari debu dan material lainnya. Khusus untuk U-ditch tipe corrugate dilapisi dengan mirror glaze (anti lengket resin) antara bekisting dan corrugate kayu untuk menutupi celah-celah kecil yang memungkingkan beton segar masuk ke celah-celah tersebut pada saat pengecoran yang dapat merusak bentuk corrugate.

Sebelum baja tulangan diposisikan ke dalam bekisting, terlebih dahulu bekisting dilapisi dengan oli menggunakan kuas. Setelah tulangan terpasang pada bekisting, tulangan dipasangi plastic wheel spacer sebagai pengganti beton decking untuk menghasilkan tebal selimut beton 20 mm.

Pada tiap-tiap sisi bekisting dirapatkan dengan memasang baut mur menggunakan kunci inggris. Pastikan bahwa tidak ada celah agar beton segar (fresh concrete) tidak keluar pada saat pengecoran dan pemadatan dilakukan. 

Pembuatan Campuran Beton

1) Penimbangan bahan dan material

Semen, agregat, air, dan superplasticizer ditimbang sesuai dengan komposisi mix design yang telah ditentukan.

Sebelum proses pengadukan (mixing), terlebih dahulu superplasticizer dicampurkan ke dalam air. Superplasticizer mempunyai pengaruh yang besar dalam meningkatkan workabilitas tanpa memengaruhi kuat tekan beton. 

2) Proses pencampuran (mixing)

Proses pencampuran dilakukan dengan menggunakan mesin concrete mixer. 

Langkah pertama masukkan secara berurutan pasir, semen, kemudian agregat halus masing-masing sesuai dengan porsi yang telah ditimbang.

Tutup permukaan concrete mixer kemudian nyalakan mesin. Pada 30 detik pertama buka penutupnya. Kemudian pada detik ke 60 masukkan campuran air dan superplasticizer yang telah ditimbang secara perlahan.

Setelah memasukkan campuran air dan superplasticizer, aduk selama 1 menit lalu matikan mesin. Kemudian aduk campuran secara manual menggunakan sendok semen selama 30 detik untuk memastikan tidak ada pasir atau semen yang menggumpal. Setelah itu nyalakan mesin kembali selama 1 menit sampai campuran beton merata. 

Pengujian Slump Flow

Pengujian nilai slump flow dilakukan setelah campuran beton jadi. Pengujian nilai slump berguna untuk mengetahui keadaan kelecakan campuran.


Pengecoran dan Pemadatan 

Pengecoran dapat dilakukan segera setelah selesai pengadukan (mixing) beton segar dan sebelum beton mulai mengeras. Sedangkan proses pemadatan saat pengecoran dilakukan menggunakan mesin vibrator.

Campuran beton dituang ke dalam bekisting kemudian mesin vibrator dinyalakan. Pemadatan dilakukan dengan penggetaran agar udara atau angin yang masih berada dalam campuran tersebut dapat keluar dan tidak menimbulkan rongga atau lubang yang menyebabkan kualitas beton berkurang.

Pada proses produksi ini, pemadatan dilakukan dengan 2 kali penggetaran. Untuk penggetaran pertama, beton diisi sampai memenuhi bagian dinding U-ditch kemudian digetarkan selama 20 detik. Setelah penggetaran pertama, bekisting diisi kembali sampai penuh dan digetarkan kembali selama 15 detik.

Pengeluaran/Pemindahan Beton dari Bekisting Menggunakan Crane

Campuran beton yang telah dipadatkan kemudian dipindahkan dengan crane ke tempat yang telah ditentukan dimana beton akan mengeras sempurna. Sebagai tahap finishing, permukaan beton kemudian diratakan dengan menggunakan sendok semen (trowel) dan dibiarkan mengeras sempurna.

Perawatan (Curing)

Perawatan/Curing dilakukan setelah beton mencapai final setting atau beton telah mengeras. Curing dilakukan untuk memastikan reaksi senyawa semen dapat berlangsung secara optimal sehingga mutu beton yang diharapkan dapat tercapai, dan menjaga agar tidak terjadi susut yang berlebihan pada beton akibat kehilangan kelembaban yang terlalu cepat atau tidak seragam, sehingga menyebabkan retak.

Benda uji dicuring selama sekitar 28 hari berturut–turut mulai hari pertama setelah pengecoran. Curing dilakukan dengan cara menyelimuti permukaan beton dengan kain goni basah.


Demikianlah penjelasan mengenai apa itu U-ditch dan bagaimana cara memproduksinya atau proses pembuatannya.

0 Response to "Tipe Ukuran U-ditch dan Cara Memproduksinya"

Post a Comment