12 Penyebab Kerusakan Aspal dan Urgensi Pemilihan Material Berkelanjutan

Dalam pembangunan infrastruktur jalan, keberlanjutan menjadi aspek kunci yang tidak dapat diabaikan. Jalan aspal, sebagai sistem transportasi, sering kali menghadapi tantangan dalam bentuk kerusakan yang memerlukan perbaikan berulang. 

Pemahaman mendalam terhadap penyebab kerusakan jalan aspal dan urgensi pemilihan material berkelanjutan menjadi esensial untuk mencapai infrastruktur jalan yang tahan lama.

Sebelum membahas penyebab kerusakan aspal pada jalan, ada baiknya membaca artikel standar ketebalan aspal jalan desa (untuk Anda yang tinggal di desa atau yang mengerjakan proyek-proyek jalan desa).




12 Penyebab Kerusakan Jalan Aspal


Dalam konstruksi jalan, lapis perkerasan aspal memainkan peran sentral dalam menjamin ketahanan dan daya tahan jalan. Meskipun demikian, beberapa faktor dapat menjadi pemicu utama kerusakan pada lapis perkerasan tersebut, seperti pada penjelasan berikut:

1. Kadar aspal tidak sesuai Job Mix Formula atau kualitas kurang baik


Pentingnya Job Mix Formula (JMF) sebagai acuan komposisi material perkerasan aspal sangat menentukan mutu jalan. Kadar aspal yang tidak sesuai dengan yang tercantum dalam JMF menjadi penyebab utama kerusakan. 

Jika kadar aspal yang digunakan lebih rendah dari yang dijelaskan dalam JMF, daya rekat dan fleksibilitas lapis perkerasan akan terpengaruh. Akibatnya, setelah pengerjaan selesai, retak-retak halus hingga retak kulit buaya akan muncul, membuka peluang air hujan merusak struktur di bawahnya.

Solusi untuk mengatasi kerusakan seperti retak rambut adalah dengan melakukan patching atau memotong dan mengganti sebagian material perkerasan yang rusak dengan yang baru sesuai dengan ketentuan JMF.


Baca juga: Apa itu Job Mix Formula Beton? Ini Manfaat Dan Contohnya


2. Kelebihan beban kendaraan

Faktor penyebab kedua yang signifikan dalam merusak aspal adalah kelebihan beban kendaraan yang melintasi jalan raya. 

Kendaraan-kendaraan berat, seperti truk dan tronton, dapat memberikan tekanan yang berlebihan pada lapis perkerasan, melampaui kapasitas dan tipe kendaraan yang telah ditetapkan. 

Meskipun aturan dan pengukuran dengan jembatan timbang ada, namun kadang-kadang tidak semua kendaraan mematuhi aturan tersebut.

Meningkatnya volume lalu lintas dan kelebihan beban dapat menyebabkan kerusakan dini pada jalan raya. Ini dapat terjadi pada perkerasan lentur atau aspal, dan bahkan pada perkerasan jalan beton jika dilalui oleh kendaraan berat secara berlebihan.


3. Perencanaan Perkerasan yang Tidak Sesuai


Perencanaan perkerasan yang tidak sesuai dengan kondisi lapangan dapat menjadi faktor utama kerusakan pada lapis perkerasan aspal. Dalam merancang perkerasan jalan, standar dan ketentuan yang berlaku harus dipatuhi. 

Faktor-faktor seperti jenis klasifikasi jalan, perencanaan geometrik jalannya, lapisan dan data tanah yang digunakan, desain tulangan (jika perkerasan beton), semuanya membutuhkan perhatian khusus. 

Terkadang, kesenjangan antara perencanaan dan pelaksanaan dapat menyebabkan desain perkerasan yang tidak sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.


4. Konstruksi tanah dasar yang tidak stabil

Tanah dasar yang tidak stabil merupakan tantangan tambahan dalam konstruksi perkerasan jalan. Meskipun dilakukan pemeriksaan teknis terhadap tanah dasar sebelum pembangunan, karakteristik tanah yang sebenarnya terkadang tidak sepenuhnya terungkap. 

Beberapa daerah di Indonesia memiliki tanah dasar yang tidak stabil, seperti tanah lempung yang rentan terhadap pergerakan.

Pentingnya penanganan teknis yang sesuai dengan kondisi tanah dasar menjadi nyata. Pada kondisi tanah dasar yang tidak stabil, kendaraan yang melintasi jalan secara berulang dapat menyebabkan kerusakan seperti retakan atau pergeseran, mengancam integritas perkerasan jalan.



5. Suhu penghamparan aspal di lapangan tidak sesuai spesifikasi


Penyebab lain yang sering mengakibatkan kerusakan pada aspal adalah suhu penghamparan yang tidak sesuai dengan spesifikasi.

Suhu aspal yang tepat saat dituangkan ke asphalt finisher biasanya berkisar antara 135 hingga 150 derajat Celsius.

Apabila suhu aspal tidak sesuai, aggregat aspal dapat mengeras dan menggumpal, mengakibatkan kesulitan dalam proses pemadatan dan penurunan density aspal.

Jika aspal yang sudah menggumpal tetap dihampar, kerusakan akan terjadi dalam waktu singkat setelah pengaspalan karena tidak adanya homogenitas dalam lapisan aspal.


6. LPA dan LPB belum keras tetap dipaksakan dilakukan pengaspalan

Lapis Pondasi Atas (LPA) dan Lapis Pondasi Bawah (LPB) memegang peranan krusial dalam struktur perkerasan jalan. Seringkali, untuk mempercepat proyek, pekerjaan pengaspalan dilakukan tanpa memperhatikan kematangan LPA dan LPB.

LPA berada tepat di bawah lapisan aspal, sementara LPB berada di atas tanah dasar. Ketidakhati-hatian dalam menangani kematangan kedua lapis pondasi ini dapat mengakibatkan kerusakan serius pada jalan.

Pekerjaan pengaspalan yang dilakukan pada LPA atau LPB yang belum keras dapat menyebabkan struktur jalan menjadi tidak stabil. 

Kerusakan seperti kubangan berisi air atau deformasi pada lapis pondasi sering kali muncul akibat tindakan ini.

Solusi untuk memperbaiki kerusakan ini melibatkan penggantian seluruh lapis pondasi dan dilanjutkan dengan pengaspalan ulang. 


7. Lapis pondasi agregat yang tidak padat


Pentingnya lapis pondasi dalam konstruksi jalan tidak bisa diabaikan. Tersedia kelas A dan kelas B untuk lapis pondasi, namun terkadang pelaksanaan tidak memenuhi ketentuan, menyebabkan aspal hotmix menjadi tidak stabil dan bergelombang. 

Penggunaan lapis pondasi agregat yang tidak padat atau tidak sesuai ketetapan dapat mengakibatkan aspal tidak mampu menahan beban lalu lintas dengan baik.

Oleh karena itu, pemeriksaan kepadatan lapis pondasi agregat sebelum pengaspalan menjadi langkah penting. Metode pengukuran kepadatan lapangan dengan menggunakan alat konus pasir menjadi salah satu metode yang umum digunakan.


8. Tidak dibuatnya sistem drainase pada jalan

Salah satu aspek yang sering diabaikan adalah sistem resapan air atau drainase pada proyek jalan. Kegagalan drainase atau tidak adanya sistem resapan air yang efektif dapat menyebabkan berbagai masalah pada jalan. 

Jika air tidak dapat mengalir dengan baik, maka genangan air di permukaan jalan dapat terjadi. Situasi ini dapat menyebabkan pelepasan butiran agregat aspal hotmix dan mengurangi daya lekat aspal, yang pada gilirannya meningkatkan risiko kerusakan.

Pentingnya drainase menjadi semakin nyata saat terjadi banjir. Air yang menggenang di permukaan jalan, terutama pada aspal jenis hotmix, dapat menyebabkan pelepasan butiran agregat dan mengakibatkan kerusakan pada perkerasan jalan.

Kondisi ini semakin parah jika jalanan digenangi dalam waktu yang lama, diiringi kemacetan, dan dilalui oleh berbagai kendaraan berat. Oleh karena itu, sistem drainase yang baik dan sesuai dengan standar yang berlaku sangat penting untuk mengalirkan air dan mencegah terjadinya genangan air di permukaan jalan


9. Jumlah passing pemadatan kurang




Kurangnya jumlah passing pada proses pemadatan aspal menggunakan alat berat merupakan faktor penyebab lain kerusakan pada jalan aspal. Proses pemadatan biasanya melibatkan tandem roller dan PTR (pneumatic tire roller). 

Jumlah passing yang tepat perlu diatur sesuai dengan karakteristik proyek dan hasil uji trial.

Pentingnya uji trial menjadi nyata, karena hasilnya menjadi acuan untuk jumlah passing di lapangan. Jika jumlah passing di lapangan lebih sedikit dibandingkan dengan hasil uji trial, tingkat kepadatan aspal akan berkurang. 

Kepadatan minimal yang harus dicapai, sesuai spesifikasi, adalah 98%. Jika kepadatan kurang dari standar, lapisan aspal tidak akan sepenuhnya kedap air. Jika kemudian air masuk, dapat menyebabkan kelebihan air ke dalam struktur pondasi yang kemudian menyebabkan kerusakan pada perkerasan seiring berjalannya waktu.


10. Komposisi abu batu


Peran material abu batu dalam campuran aggregat aspal seringkali diabaikan, padahal kontribusinya sangat signifikan. Dalam campuran aspal, abu batu berperan penting dalam meningkatkan kerekatan, kepadatan, dan kelenturan aggregat aspal. 

Komposisi abu batu menjadi faktor penentu tingkat kepadatan dan kelenturan aggregat aspal. Pada campuran aspal AC-WC, kebutuhan abu batu lebih tinggi dibandingkan dengan campuran AC-BC, karena lapisan AC-WC harus lebih rapat dan tahan air.


11. Bencana alam

Meskipun merupakan faktor yang tidak dapat dihindari karena terkait langsung dengan alam, bencana alam dapat menyebabkan kerusakan serius pada perkerasan jalan. 

Setelah terjadi bencana alam seperti banjir, gempa bumi, atau tanah longsor, perbaikan jalan yang terkena dampak perlu segera dilakukan. Upaya pemulihan dan perbaikan ini penting untuk memastikan infrastruktur jalan dapat berfungsi kembali dengan baik dan aman setelah bencana.


12. Kurangnya Perawatan atau Pemeliharaan

Kurangnya perawatan atau pemeliharaan pada perkerasan jalan sejak dini dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih serius. Saat terjadi kerusakan kecil yang dibiarkan tanpa tindakan, lubang dapat muncul dan membahayakan pengendara serta pengguna jalan lainnya. 

Perawatan dan pemeliharaan yang tepat waktu sangat penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dan menjaga kualitas perkerasan jalan dalam jangka waktu yang lebih lama. Dengan tindakan preventif yang baik, kerusakan pada perkerasan jalan dapat diminimalkan, dan umur layan perkerasan dapat diperpanjang.



Pemilihan Material yang Berkelanjutan untuk Jalan Aspal


Pemilihan material yang berkelanjutan untuk pembangunan jalan aspal menjadi suatu aspek krusial dalam upaya meningkatkan daya tahan dan efisiensi infrastruktur jalan. 


A. Kriteria Utama dalam Pemilihan Material


1. Ketersediaan dan Sumber Daya Lokal


Pemilihan material yang berkelanjutan harus mempertimbangkan ketersediaan dan sumber daya lokal. Penggunaan bahan yang dapat diperoleh secara lokal dapat mengurangi dampak transportasi, mengurangi emisi karbon, dan mendukung ekonomi lokal.


2. Kinerja dan Daya Tahan Material


Material yang berkelanjutan untuk jalan aspal harus memiliki kinerja dan daya tahan yang optimal. Hal ini mencakup kemampuan material untuk menahan beban lalu lintas, tahan terhadap perubahan iklim, serta mampu mempertahankan sifat fisiknya dalam jangka waktu yang panjang.


3. Kemampuan Daur Ulang dan Penggunaan Ulang Material


Pemilihan material yang dapat didaur ulang atau digunakan kembali menjadi aspek penting dalam keberlanjutan. Material yang dapat diambil kembali setelah masa pakainya berakhir dapat mengurangi jumlah limbah dan meminimalkan dampak lingkungan.


4. Keamanan Material


Keamanan material menjadi prioritas utama dalam pemilihan material untuk jalan aspal. Material harus memenuhi standar teknis dan ketentuan keselamatan jalan yang berlaku, sehingga dapat memberikan perlindungan yang optimal bagi pengguna jalan.


B. Material Alternatif yang Ramah Lingkungan


1. Aspal Daur Ulang (RAP - Reclaimed Asphalt Pavement)


Aspal daur ulang (recycled), atau RAP, adalah material yang dihasilkan dari daur ulang aspal bekas. Penggunaan RAP dapat mengurangi ketergantungan pada bahan baru, mengurangi limbah konstruksi, dan menghemat sumber daya alam.


2. Beton Aspal Tanah Liat (WMA - Warm Mix Asphalt)


Beton aspal tanah liat adalah inovasi dalam industri aspal yang menggunakan suhu produksi lebih rendah. Proses produksi yang lebih dingin pada WMA menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah dan mengurangi konsumsi energi.


3. Bahan Pengikat Aspal Berbasis Bio


Pengembangan bahan pengikat aspal berbasis bio menjadi langkah penting dalam mendukung keberlanjutan jalan aspal. Bahan-bahan ini dihasilkan dari sumber-sumber yang dapat diperbarui, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.


Pemilihan material yang berkelanjutan untuk pembangunan jalan aspal bukan hanya menguntungkan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang signifikan. Dengan berfokus pada kriteria dan prinsip keberlanjutan, pembangunan jalan aspal dapat menjadi bagian integral dari upaya global untuk mencapai pembangunan berkelanjutan.

0 Response to "12 Penyebab Kerusakan Aspal dan Urgensi Pemilihan Material Berkelanjutan"

Post a Comment