10 Bendungan Terbesar Dari Berbagai Pulau Di Indonesia

Bendungan atau waduk adalah infrastruktur yang memiliki peran sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Fungsi utamanya adalah sebagai tempat penyimpanan dan pengendalian aliran air, terutama selama musim hujan. Dalam konteks Indonesia yang memiliki iklim tropis dengan musim kemarau yang panjang, bendungan menjadi aset yang tak ternilai harganya.

Salah satu peran utama bendungan adalah untuk mengumpulkan air selama musim penghujan. Air ini kemudian dapat dimanfaatkan pada musim kering untuk berbagai keperluan, seperti pertanian, minum, dan pembangkit listrik. Dengan adanya bendungan, masyarakat di sekitarnya dapat memiliki pasokan air yang stabil dan dapat diandalkan sepanjang tahun.

Indonesia memiliki sejumlah bendungan terbesar, tersebar di berbagai wilayah. Contohnya adalah Bendungan Jatiluhur di Jawa Barat, yang memiliki kapasitas yang signifikan dalam memenuhi kebutuhan air di wilayah tersebut. Keberadaan bendungan-bendungan ini telah membantu meningkatkan produktivitas pertanian, menyediakan pasokan air bersih, dan mendukung pembangkitan listrik.


Daftar Bendungan Terbesar di Indonesia


Pemerintah Indonesia terus berkomitmen untuk membangun bendungan yang lebih besar dan efisien dalam mengelola sumber daya air. Nah, untuk saat ini bendungan terbesar di Indonesia ada:


1. Bendungan Jatiluhur




  • Lokasi: Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Cianjur, dan Bandung, Jawa Barat.
  • Tahun Pembangunan: Dimulai pada tahun 1957.
  • Tujuan Utama: Dibangun untuk irigasi sawah seluas 242.000 hektare, menjadikannya salah satu proyek irigasi terbesar di Indonesia.
  • Luas: Waduk ini mencakup luas 8.300 hektare, menjadikannya waduk terluas di Asia Tenggara.

Selain irigasi, waduk ini berperan penting sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas mencapai 187 MW. Selain memenuhi tujuan awal irigasi dan penyediaan listrik, Waduk Jatiluhur juga memiliki dampak besar terhadap daerah sekitarnya, termasuk DKI Jakarta. Selain itu, waduk ini juga tersambung dengan Waduk Cirata, yang berperan dalam mengelola sumber daya air di wilayah tersebut.


2. Bendungan Karangkates


  • Lokasi: Terletak di Malang, Jawa Timur.
  • Tahun Pembangunan: Dibangun selama dua tahun, dimulai pada tahun 1995.
Bendungan ini memiliki peran penting dalam mengelola aliran Sungai Brantas dan menyediakan manfaat yang signifikan bagi wilayah sekitarnya. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi peran dan manfaat dari Bendungan Sutami yang patut diapresiasi.

Salah satu tantangan yang dihadapi oleh Bendungan Sutami adalah sedimentasi, yang seiring berjalannya waktu telah mengurangi kapasitas waduk yang terbentuk akibat pembangunan bendungan ini. Saat ini, total kapasitas waduk diperkirakan mencapai 158,5 juta meter kubik, dengan kapasitas aktif sebesar 135,4 juta meter kubik dan kapasitas nonaktif sebesar 23,1 juta meter kubik. 

Meskipun mengalami penurunan kapasitas, bendungan ini tetap memiliki peran krusial dalam pengelolaan sumber daya air.

Salah satu manfaat utama Bendungan Sutami adalah pengendalian banjir. Dengan mengurangi debit banjir hingga 1.000 tahunan dari 4.000 m3/detik menjadi hanya 1.580 m3/detik, debit banjir 200 tahunan dari 3.000 m3/detik menjadi hanya 1.060 m3/detik, dan debit banjir 10 tahunan dari 1.540 m3/detik menjadi hanya 350 m3/detik, bendungan ini telah membantu melindungi wilayah sekitarnya dari risiko banjir yang seringkali merusak.

Selain itu, Bendungan Sutami juga memainkan peran penting dalam pembangkitan energi listrik. Melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas terpasang 3 x 35 MW, bendungan ini telah menyediakan sumber energi yang bersih dan berkelanjutan untuk wilayah tersebut.

Aspek pertanian juga mendapatkan manfaat dari Bendungan Sutami. Air irigasi sebanyak 244 m3/detik pada musim kemarau disediakan untuk lahan pertanian seluas 34.000 hektar. Hal ini membantu mendukung produktivitas pertanian dan ketahanan pangan di wilayah tersebut.


3. Bendungan Sigura-Gura


  • Lokasi: Terletak di Provinsi Sumatera Utara.
  • Tahun Pembangunan: Dibangun pada 1978 dan selesai pada Desember 1981.

Waduk Sigura-Gura awalnya digunakan oleh Jepang untuk pembangkit listrik untuk pabrik Aluminium (INALUM). Saat ini, bendungan ini berfungsi untuk menjamin ketersediaan volume air dan besarnya energi air yang diperlukan untuk pembangkit tenaga listrik di PLTA Sigura-Gura.

Waduk ini memiliki struktur Beton Gravity dengan tinggi sekitar 46 meter. Dengan volume air hingga 6.140.000 meter kubik, waduk ini mampu menghasilkan listrik sebesar 206 megawatt. Uniknya, pembangkit listrik waduk ini berada jauh 200 meter di kedalaman tanah yang terdiri dari ruang pembangkit listrik dan ruang transformator utama.


4. Bendungan Batu Tegi Tegi


  • Lokasi: Terletak di Pekon Batu Tegi, Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung.
  • Tahun Pembangunan: Proses pembangunan waduk ini memakan waktu hingga delapan tahun, yakni dari 1994 hingga 2002.

Bendungan ini dibangun untuk membendung aliran Sungai Sekampung, dan sebagai hasilnya, sebuah waduk yang mengesankan terbentuk. Volume waduk mencapai sekitar 687,767 juta meter3, dengan luas permukaan air mencapai 16 km2. Kapasitas yang luar biasa ini memungkinkan bendungan ini untuk memainkan peran ganda yang sangat penting dalam pengelolaan sumber daya air.


Salah satu peran utama Bendungan Batu Tegi adalah pembangkit listrik tenaga air. Dengan memanfaatkan potensi air yang tersedia, bendungan ini mampu menyediakan sumber energi listrik yang bersih dan berkelanjutan untuk wilayah tersebut. Ini adalah langkah penting dalam mendukung kebutuhan energi yang terus berkembang dan mengurangi ketergantungan pada sumber energi yang tidak ramah lingkungan.


Selain sebagai sumber energi, bendungan ini juga berfungsi sebagai pusat pengairan untuk lahan pertanian. Dengan menyediakan air irigasi, Bendungan Batu Tegi mendukung produktivitas pertanian di wilayah tersebut. Hal ini membantu mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan petani setempat.


Tidak hanya berperan dalam sektor energi dan pertanian, Bendungan Batu Tegi juga telah menjadi objek wisata populer bagi masyarakat Lampung dan sekitarnya. Keindahan alam sekitarnya, aktivitas rekreasi yang dapat dinikmati, dan potensi ekonomi yang terkait dengan pariwisata semakin memperkuat nilai bendungan ini bagi masyarakat.

5. Bendungan Gajah Mungkur




  • Lokasi: Terletak di Wonogiri, Jawa Tengah.
  • Tahun Pembangunan: Diresmikan pada 17 November 1981.
  • Tujuan Utama: Waduk Gajah Mungkur direncanakan untuk pencegahan banjir, sumber irigasi, dan sebagai objek wisata.
  • Waduk ini memiliki luas hingga 9.100 hektare, dan pembangunannya melibatkan relokasi 15 desa dan 13 ribu keluarga.

Dampak dari pembangunan waduk ini membuat sebagian warga melakukan transmigrasi ke Jambi, Bengkulu, Sumatera.


6. Bendungan Kedungombo


  • Lokasi: Berlokasi di Desa Rambat, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
  • Tahun Pembangunan: Dibangun dari tahun 1980 hingga 1991.

Waduk Kedung Ombo dirancang sebagai waduk multi-guna, dengan fungsi utama sebagai penyedia air irigasi dan air baku. Salah satu peran utamanya adalah memasok air irigasi untuk sekitar 61.000 hektar sawah di daerah Purwodadi dan sekitarnya. Ini adalah langkah penting dalam mendukung pertanian dan ketahanan pangan di wilayah tersebut.

Selain itu, waduk ini juga berfungsi sebagai alat pengendalian banjir. Dengan kapasitas tampung maksimal sebesar 703 juta m3, Waduk Kedung Ombo dapat mengurangi risiko banjir di wilayah sekitarnya. Ini adalah langkah proaktif dalam melindungi masyarakat dan harta benda dari bahaya banjir.

Dalam situasi saat ini, sistem irigasi yang terhubung dengan Waduk Kedung Ombo, seperti Bendung Klambu yang mengairi sekitar 37.451 hektar sawah, masih beroperasi normal. Ini adalah bukti bahwa infrastruktur air ini terus memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat di empat wilayah yaitu Grobogan, Kudus, Demak, dan Pati.


7. Bendungan Wonorejo





  • Lokasi: Terletak di Tulungagung, Jawa Timur.
  • Tahun Pembangunan: Diresmikan pada 21 Juni 2001.


Bendungan Wonorejo, dengan kapasitas tampung sebesar 122 juta m3, adalah salah satu elemen penting dalam sistem pengelolaan sumber daya air di Indonesia. Terletak di daerah aliran sungai Gondang, dalam wilayah sungai Brantas, bendungan ini memiliki sumber air utama dari sungai Gondang dan Song. 


Bendungan ini merupakan tipe urugan batu, yang mencerminkan keahlian teknik yang diperlukan untuk membangunnya. Dengan panjang tanggul sebesar 545 m dan tinggi bendungan mencapai 100 m, serta volume timbunan mencapai 6,05 juta m3, Bendungan Wonorejo memiliki kapasitas yang mengesankan untuk menyimpan air. Kapasitas tampung yang besar ini memungkinkan bendungan ini untuk memainkan peran ganda yang sangat penting dalam pengelolaan sumber daya air.


Salah satu peran utama Bendungan Wonorejo adalah menyediakan air baku. Dengan kemampuan untuk memasok sekitar 8 m3/detik air baku, bendungan ini membantu memenuhi kebutuhan air untuk berbagai keperluan, termasuk pemenuhan kebutuhan minum dan industri.


Selain sebagai sumber air, bendungan ini juga berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik. Dengan daya pembangkit sebesar 6,02 megawatt, Bendungan Wonorejo memberikan kontribusi yang signifikan dalam penyediaan energi listrik yang bersih dan berkelanjutan.


Aspek pengendalian banjir juga menjadi peran penting dari bendungan ini, dengan kemampuannya untuk mengendalikan banjir di daerah Tulungagung seluas 1.479 hektar. Hal ini membantu melindungi wilayah tersebut dari risiko banjir yang dapat merusak.


Bendungan Wonorejo juga berperan dalam pengairan irigasi pertanian seluas 1.200 hektar, mendukung produktivitas pertanian di wilayah sekitarnya. Selain itu, budidaya perikanan dan pengembangan sektor pariwisata adalah manfaat tambahan yang diberikan oleh bendungan ini.

8. Bendungan Jatigede



  • Lokasi: Terletak di daerah Majalengka dan Sumedang, Jawa Barat.
  • Tahun Pembangunan: Dimulai pada tahun 2008 dan selesai pada tahun 2015.


Sejarah pembangunan Waduk Jatigede dimulai sejak zaman Hindia Belanda. Namun, pembangunan yang sesungguhnya baru dimulai pada tahun 2008, saat kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Proyek ini memerlukan waktu bertahun-tahun untuk diselesaikan, dan baru diresmikan pada tahun 2015. Pengoperasian penuh waduk ini terjadi pada tahun 2017.


Waduk Jatigede memiliki kapasitas tampung yang luar biasa, dengan mampu menampung hingga 979,5 juta meter kubik air. Fungsinya yang utama adalah sebagai pusat pengairan yang mengalirkan air ke lahan pertanian produktif sekitar. Wilayah yang tercakup oleh waduk ini meliputi Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, dan Kabupaten Majalengka. Dengan memasok air ke lebih dari 90.000 hektar lahan pertanian, Waduk Jatigede berkontribusi besar terhadap ketahanan pangan di wilayah tersebut.


Manfaat lain dari Waduk Jatigede adalah penyediaan air bersih bagi penduduk sekitar. Waduk ini memiliki kapasitas untuk memasok hingga 3.500 meter kubik air per detik, memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.



9. Bendungan Riam Kanan


  • Lokasi: Terletak di Provinsi Kalimantan Selatan.
  • Tahun Pembangunan: Dibangun sekitar tahun 1972.

Waduk Riam Kanan, yang terletak di Aranio, Aranio, Banjar, Kalimantan Selatan, merupakan salah satu waduk terbesar di wilayah tersebut. 

Dibangun dengan upaya yang luar biasa selama kurun waktu sepuluh tahun, waduk ini adalah contoh gemilang dari pembangunan infrastruktur yang memadukan teknik dan ketelitian dalam mengelola sumber daya alam.

Proyek pembangunan Waduk Riam Kanan melibatkan pembendungan delapan sungai yang berasal dari Pegunungan Meratus, serta penggenangan yang mengakibatkan tenggelamnya sembilan desa di area seluas 9.730 hektar. 

Pembangunan waduk dimulai dengan visi dan tujuan yang jelas, yakni untuk menciptakan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dapat memenuhi kebutuhan energi listrik di wilayah Banjarmasin dan sekitarnya.

Waduk Riam Kanan memiliki tinggi sekitar 66 meter, yang merupakan prestasi teknikal yang mengesankan dalam pembangunan infrastruktur air. Tinggi ini memungkinkan waduk untuk mengumpulkan dan mengalirkan sejumlah besar air, yang nantinya akan digunakan untuk menghasilkan energi listrik melalui PLTA.


10. Bendungan Tilong

  • Lokasi: Terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
  • Tahun Pembangunan: Dibangun dari tahun 1998 hingga 2001.


Bendungan Tilong, sebuah infrastruktur megah yang terletak di Desa Oel Nasi, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, adalah salah satu pencapaian besar dalam pengembangan sumber daya air di Indonesia.

Bendungan Tilong mengalirkan air ke lahan irigasi seluas 1.484 hektare. Luas ini mencakup areal eksisting seluas 540 hektare serta areal pengembangan seluas 939 hektare. Ini adalah salah satu dampak positif yang signifikan dari pembangunan bendungan ini, karena meningkatkan produktivitas pertanian dan pengelolaan sumber daya air di wilayah NTT.

Selain berperan dalam irigasi, Bendungan Tilong juga memainkan peran penting dalam penyediaan air bersih untuk Kota Kupang dan wilayah sekitarnya. Bendungan ini mampu memasok sekitar 150 liter air per detik untuk keperluan air bersih. 

0 Response to "10 Bendungan Terbesar Dari Berbagai Pulau Di Indonesia"

Posting Komentar